SILAT BEKSI PETUKANGAN KHASANAH BUDAYA BETAWI BAK MUTIARA YANG TERPENDAM

Kepala Dinas Kebudayaan DKI Iwan Henry Wardhana menerima cinderamata dari Naufal Haryawan ketua Yayasan Kampung Silat Petukangan

 

 

 

Jakarta – Informasikawasan.com- “Tidak ada yang lebih membahagiakan buat kita bisa berkumpul bersama dan membentuk ikatan silaturahmi antara Dinas Kebudayaan selaku perwakilan dari pemerintah beserta perangkat lainnya dan masyarakat yang ada disini,” Demikian pernyataan Iwan Henry Wardhana selaku Kepala Dinas Kebudayaan dalam kunjungannya pada Sabtu (14/11/2020) di Kampung Budaya Beksi Petukangan, Jakarta Selatan.

Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut hasil diskusi bersama Yayasan Kampung Silat Petukangan sebelumnya dalam proses pencanangan Kampung Petukangan sebagai Kampung Budaya berbasis silat dalam hal ini Beksi sebagai identitas kampung tersebut.

“Kami dari pemerintah tidak bisa lagi hanya duduk dibelakang meja lalu memberi keputusan tanpa mendengar dan mengetahui permasalahan yang ada. Untuk itu Dinas Kebudayaan berkeinginan kuat untuk lebih banyak mendengar daripada berbuat tanpa ada bahan dasar untuk membuat itu,” kata Iwan.

Dalam kesempatan tersebut turut hadir diantaranya, Margani Mustar selaku mantan Kepala Biro Perlengkapan Setda Provinsi DKI Jakarta, Puspla Dirjaja selaku Kepala Suku Dinas Kebudayan Jakarta Selatan, M. Fajar Churniawan selaku Camat Pesanggrahan, Fahrul Hertanto selaku Lurah Petukangan Utara, Husnizon Nizar selaku Tim Ahli Cagar Budaya dan rekan-rekan di jajaran Dinas Kebudayan DKI Jakarta, Naupal Haryawan selaku Ketua Yayasan Kampung Silat Petukangan, Nasir Mupid, maestro seni Topeng Blantek, H. Basir Bustomi, ketua Brigade Jawara Betawi 411 serta Lima pusat perguruan Beksi berdasarkan sanad yang ada di Petukangan.

Kegiatan yang dilakukan sejak pukul delapan pagi tersebut diantaranya ziarah makam, dialog budaya hingga atraksi budaya yaitu Manakib Haji Godjalih dan diiringi alat musik rebana, marawis, dan kongahyan yang dibawakan langsung oleh perguruan silat Beksi. Selain itu kegiatan tersebut juga sekaligus memperingati hari pahlawan pada 10 November beberapa hari lalu.

Sekilas mengenai sosok Haji Godjalih adalah salah satu dari lima guru besar Beksi yang ada, diantaranya Haji Hasbullah, Simin, M. Noer dan Minggu. Haji Godjalih pada revolusi nasional 1945 selain jago silat, ia juga merupakan tokoh penggerak dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan di tanah Petukangan, Kebayoran dan sekitarnya.

Bukti salah satu kiprahnya adalah pada saat pertempuran Kebayoran dimana saat itu banyak terjadi penyisiran kampung ke kampung oleh Belanda. Laskar rakyat di Petukangan dalam hal ini Beksi menghadang penyisiran tersebut hingga akhirnya menewaskan salah satu korban yakni Mohammad Saidi, salah satu murid Haji Godjalih sekaligus anggota laskar rakyat Beksi.

Untuk mengenang jasanya namanya diabadikan menjadi nama jalan yaitu M. Saidi Raya yang menghubungkan antara Petukangan Selatan dengan Bintaro Utara.

“Banyak orang hanya bisa menjaga dan melestarikan saja tapi masyarakat Petukangan disini mampu mengembangkan dengan teknologi tepat guna seiring perkembangan zaman. Oleh karenanya harapan kami tentunya Beksi terus sejajar dan menjadi mitra kami di Dinas Kebudayaan dalam mengembangkan ekspresi kebudayaan dalam hal ini pencak silat,” sambungnya.

Iwan juga menambahkan bahwa Beksi telah mendapat sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu, Dinas Kebudayaan pada 2021 nanti akan tetap mengusulkan pembinaan seni budaya di ruang publik salah satunya adalah pelatihan silat di RPTRA-RPTRA yang tersebar di Jakarta.

“Kami akan mengupayakan supaya Beksi tercatat kembali di Departemen Hukum dan HAM sebagai kekayaan intelektual komunal bukan hanya ditingkat Jakarta tapi juga nasional dan mengenai Petukangan sebagai Kampung Budaya mulai hari ini akan kita coba dan akan ditinjau lebih lanjut oleh Tim Cagar Budaya” tandas Iwan.

Sementara itu Margani Mustar dalam sambutannya mengatakan bahwa Beksi selain untuk bela diri dan perbaikan fisik, te’tapi juga untuk perb-aikan rohani serta budi pekerti.

Selanjutnya H. Basir Bustomi juga mengatakan bahwa tidak dapat dipungkiri Beksi ini memang lahir dan berkembang di tanah Petukangan dan para tokoh yang ada memperjuangkan Beksi sampai sekarang.

“Mudah-mudahan melalui Kampung Budaya Beksi Petukangan ini, Beksi akan lebih berkembang tidak hanya dikancah nasional tapi juga sampai internasional,” kata H. Basir.

Dalam sesi dialog para hadirin diberikan kesempatan untuk bertanya atau memberikan kritik serta saran. Pada sesi terakhir, Naupal menegaskan titik pusat lokasi yang akan dijadikan mercusuar dalam upaya membangun Kampung Budaya Beksi Petukangan.

“Kalo memang sudah diizinkan sebagai kampung budaya, maka tanah ini yang hari ini kita pijak menjadi titik pusat pengembangan Beksi Petukangan,” pungkas Naupal yang kemudian disetujui oleh para hadirin serta pemerintah tanpa perlu dirapatkan lebih dahulu.

Sajian sarapan nasi uduk, bir pletok, ancemon, gensot teh dan kopi pun menambah suasana acara berlangsung dengan santai dan hangat. Rombongan Dinas Kebudayaan yang datang dengan bersepeda begitu menikmati jalanya acara yang berlangsung lebih kurang dua jam. Protokol kesehatan 3M juga dilakukan dengan tertib mengingat Jakarta masih dalam masa PSBB transisi.

Muhamad Rido




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *